Minggu, 05 Juni 2011
Cinta Terhalang
~buat mereka yg mengerti~
Di suatu hari yang indah
kita ditakdirkan bertemu
sama-sama membalas senyuman
sama-sama membalas jelingan
tanpa diduga sama sekali
kerna pertemuan indah itu jualah
kita ditakdirkan jatuh cinta!
kita ditakdirkan bertemu
sama-sama membalas senyuman
sama-sama membalas jelingan
tanpa diduga sama sekali
kerna pertemuan indah itu jualah
kita ditakdirkan jatuh cinta!
Saat kita merancang
untuk membina mahligai bahagia
disatukan dalam ikatan suci
halangan datang silih berganti
ujian menimpa bagaikan badai
dugaan menerpa ibarat ribut merah
air mata mengalir tak berhenti
apalah daya bila cinta terhalang
untuk membina mahligai bahagia
disatukan dalam ikatan suci
halangan datang silih berganti
ujian menimpa bagaikan badai
dugaan menerpa ibarat ribut merah
air mata mengalir tak berhenti
apalah daya bila cinta terhalang
Ayahanda bonda
dan juga sanak saudara
kami datang memohon restu
kenapa dihalangi cinta yang suci
restuilah percintaan ini
ia berlandaskan niat yang murni
pernikahan mengikut hukum Ilahi
bukan sempadan pilihan kami
satukan kami menurut adat dan agama
jangan biarkan kami sengsara
dan juga sanak saudara
kami datang memohon restu
kenapa dihalangi cinta yang suci
restuilah percintaan ini
ia berlandaskan niat yang murni
pernikahan mengikut hukum Ilahi
bukan sempadan pilihan kami
satukan kami menurut adat dan agama
jangan biarkan kami sengsara
Oh Tuhan
apalah daya kami
bila cinta tak direstui keluarga
semakin kuat mereka cuba memisahkan
semakin kuat cinta kami jadinya
berilah petunjuk
agar jalan yg kami ambil tidak bertentangan
apalah daya kami
bila cinta tak direstui keluarga
semakin kuat mereka cuba memisahkan
semakin kuat cinta kami jadinya
berilah petunjuk
agar jalan yg kami ambil tidak bertentangan
Cinta ini cinta terhalang
setiap arah ada penghadang
ke mana lagi hendak dituju
adakah mereka akan terus membiarkan
hati ini merana memakan diri
dan air mata bertukar darah???
apalah dosa kami
hingga dihukum sedemikian rupa…
setiap arah ada penghadang
ke mana lagi hendak dituju
adakah mereka akan terus membiarkan
hati ini merana memakan diri
dan air mata bertukar darah???
apalah dosa kami
hingga dihukum sedemikian rupa…
Perpisahan adalah penyelesaian
tapi perpisahan adalah pilihan terakhir kami
mereka tahu tapi mereka enggan terima
bahawa perpisahan bukanlah jalan terbaik
kami mungkin terpisah
tapi begitu dekat di hati
kami mungkin berjauhan
tapi hati kami tetap bersatu
kami mungkin dikahwinkan dgn pilihan keluarga
tapi percayalah perkahwinan itu tak akan bahagia
bila satu jiwa sedang merana
tapi perpisahan adalah pilihan terakhir kami
mereka tahu tapi mereka enggan terima
bahawa perpisahan bukanlah jalan terbaik
kami mungkin terpisah
tapi begitu dekat di hati
kami mungkin berjauhan
tapi hati kami tetap bersatu
kami mungkin dikahwinkan dgn pilihan keluarga
tapi percayalah perkahwinan itu tak akan bahagia
bila satu jiwa sedang merana
Cinta ini cinta terhalang
mungkin ada hikmah disebaliknya
kami kan terus berdoa memohon restu Ilahi
dan menanti penuh sabar restu famili
mungkin ada hikmah disebaliknya
kami kan terus berdoa memohon restu Ilahi
dan menanti penuh sabar restu famili
Oh Tuhan..kami akur sekali
jodoh dan maut di tanganMu
mana mungkin kami menentukan sendiri
andai tiada jodoh
kami redha
kerana kami sedar
kasihMu pada hambamu lebih besar
dari kasih manusia sesama manusia
betapa kerdilnya kami disisiMu
jodoh dan maut di tanganMu
mana mungkin kami menentukan sendiri
andai tiada jodoh
kami redha
kerana kami sedar
kasihMu pada hambamu lebih besar
dari kasih manusia sesama manusia
betapa kerdilnya kami disisiMu
Tuhan..berilah pedoman buat kami
yang semakin hari semakin keliru
jangan biarkan kami tewas
hingga memilih jalan yang salah
hanya padaMu kami berserah
moga cinta kami direstui…
yang semakin hari semakin keliru
jangan biarkan kami tewas
hingga memilih jalan yang salah
hanya padaMu kami berserah
moga cinta kami direstui…
Sabtu, 04 Juni 2011
Belajar dari Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
Sebagai bagian dari sebuah negara berbudaya dan beragama, tak salah bila kita sering mengatas-namakan budaya dan agama sebagai panduan hidup dan bertingkah laku. Namun, tak jarang ada kebiasaan buruk atau sifat yang membuat kita kurang disukai, dan sayangnya kita masih belum menyadarinya bahkan setelah bertahun-tahun melakukan hal yang sama. Atau mungkin kita sering berbicara, "Kok hidup susah banget ya, banyak penderitaannya...," dan dilanjutkan dengan kalimat "Yah, udah nasib...," atau, "Mungkin Tuhan punya rencana lain." Saya tidak bermaksud mengecilkan peran Tuhan (dan saya memang tidak bisa), tapi pernahkah Anda terpikir, mungkin nggak sih penderitaan itu adalah hasil kreasi pikiran kita sendiri? Bila Anda sangsi dengan jawabannya, ada sebuah buku yang sangat bagus untuk dibaca. Sampulnya sangat menarik, terlihat lucu dan mengundang rasa penasaran, terlebih saat membaca judulnya. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, demikian judulnya.
Buku ini ditulis oleh seorang Bhiksu kelahiran Inggris yang belajar di Thailand dan sekarang bermukim di Australia. Namanya cukup panjang, namun beliau dikenal dengan nama Ajahn Brahm. Akan tetapi, seluruh kisah moral dalam buku ini bersifat universal, sangat "sehari-hari", dan tidak memihak ataupun menentang agama apapun, sehingga moralnya sungguh mudah diterima bila kita berkenan. Memang, seringkali latar cerita atau inspirasinya adalah kehidupan sang Bhiksu yang berkisar di seputar kuil dan kehidupan Bhiksu, namun mereka hanyalah detail kecil yang bisa diabaikan dalam cerita-cerita penuh makna. Buku ini memuat kumpulan kisah mengenai perbaikan diri sendiri. Inti dari buku ini sebenarnya adalah bahwa perubahan selalu dimulai dari diri kita sendiri, dan bahwa penderitaan sebenarnya adalah hasil cetakan dari pikiran kita sendiri. Dengan gaya narasi yang penuh humor (dan kadang-kadang membuat pembaca malu, kalau masih punya urat malu), buku ini merupakan pedoman perbaikan diri sekaligus bacaan ringan yang bisa membuat Anda tertawa.
Buku ini dibagi dalam beberapa bab, namun sangat saya sarankan untuk membaca sesuai dengan urutan cerita, karena seringkali cerita yang sudah diceritakan di bagian awal menjadi fondasi untuk cerita selanjutnya. Dan setelah membaca kisah-kisah dalam buku ini, membaca kisah terakhir akan terasa sangat menohok bila Anda paham arti sesungguhnya. Untuk lebih mendalami arti masing-masing kisah, Anda dapat memberi jarak waktu setelah membaca untuk merefleksikan apakah kisah tersebut ada benarnya. Banyak kebiasaan-kebiasaan kecil yang sepintas terlihat sangat natural, namun melalui buku ini baru terasa sangat besar pengaruhnya pada kehidupan kita. Sangat baik apabila kita bersedia mengubah diri kita, bukannya bersikap nrimo atau berkata, "Ya ini kan memang diri saya, terimalah saya apa adanya,". Sekali-kali kita harus berani mengatakan, "Diriku (mengatakan pada diri sendiri), yuk kita belajar bersama-sama, dan kalau memang ada yang sebaiknya diubah, marilah kita berubah, supaya kita sendiri pun makin bahagia hidupnya." Karena toh, penderitaan menderitakan Anda, sehingga menghilangkannya akan membahagiakan Anda. Betul tidak?
Buku ini ditulis oleh seorang Bhiksu kelahiran Inggris yang belajar di Thailand dan sekarang bermukim di Australia. Namanya cukup panjang, namun beliau dikenal dengan nama Ajahn Brahm. Akan tetapi, seluruh kisah moral dalam buku ini bersifat universal, sangat "sehari-hari", dan tidak memihak ataupun menentang agama apapun, sehingga moralnya sungguh mudah diterima bila kita berkenan. Memang, seringkali latar cerita atau inspirasinya adalah kehidupan sang Bhiksu yang berkisar di seputar kuil dan kehidupan Bhiksu, namun mereka hanyalah detail kecil yang bisa diabaikan dalam cerita-cerita penuh makna. Buku ini memuat kumpulan kisah mengenai perbaikan diri sendiri. Inti dari buku ini sebenarnya adalah bahwa perubahan selalu dimulai dari diri kita sendiri, dan bahwa penderitaan sebenarnya adalah hasil cetakan dari pikiran kita sendiri. Dengan gaya narasi yang penuh humor (dan kadang-kadang membuat pembaca malu, kalau masih punya urat malu), buku ini merupakan pedoman perbaikan diri sekaligus bacaan ringan yang bisa membuat Anda tertawa.Buku ini dibagi dalam beberapa bab, namun sangat saya sarankan untuk membaca sesuai dengan urutan cerita, karena seringkali cerita yang sudah diceritakan di bagian awal menjadi fondasi untuk cerita selanjutnya. Dan setelah membaca kisah-kisah dalam buku ini, membaca kisah terakhir akan terasa sangat menohok bila Anda paham arti sesungguhnya. Untuk lebih mendalami arti masing-masing kisah, Anda dapat memberi jarak waktu setelah membaca untuk merefleksikan apakah kisah tersebut ada benarnya. Banyak kebiasaan-kebiasaan kecil yang sepintas terlihat sangat natural, namun melalui buku ini baru terasa sangat besar pengaruhnya pada kehidupan kita. Sangat baik apabila kita bersedia mengubah diri kita, bukannya bersikap nrimo atau berkata, "Ya ini kan memang diri saya, terimalah saya apa adanya,". Sekali-kali kita harus berani mengatakan, "Diriku (mengatakan pada diri sendiri), yuk kita belajar bersama-sama, dan kalau memang ada yang sebaiknya diubah, marilah kita berubah, supaya kita sendiri pun makin bahagia hidupnya." Karena toh, penderitaan menderitakan Anda, sehingga menghilangkannya akan membahagiakan Anda. Betul tidak?
Selasa, 31 Mei 2011
PAGI....Dunia..:))
pagi...pagi...selamat Pagii...teman" ku...
Bismillah...semoga hari ini menyenangkan..Amin..{◕ ◡ ◕}
Awali hari mu dengan senyuman..:)
dan selanjutnya terserah mau jungkir balik kemana az tuh mood kamu..hahaha!
gak tauu ahh.!!! hari ini GJ banget mood aku..
- seneng
- sedih
- acuh
- whatever!!
hahahhaaahhaa!!! gariinnngg bangett SUMPAH..!!
kata-kata yang q dapatkan pagi ini adalaahhhh.....
Impian menjadi wanita solehah: serba-serbi C.I.N.T.A
Impian menjadi wanita solehah: serba-serbi C.I.N.T.A: "apaa sih CINTA itu??/!! asshh bulshitt!! apakah kalian semua mempercayai adanya cinta??!! bingung ah...yang jelas asam.manis,pahit ..."
confuse
| Rumitnya cinta >.< |
mMm,
kita sering berfikir mengapa jodoh datang tanpa diduga2.sebenernya semua itu ada yang mengatur seperti hidup kita dan Allah juga memberikan kita jodoh bukan karena keinginan kita tapi kita diberikan jodoh dan anugerah karena kebutuhan kita.oleh karena itu kita nggak mungkin bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginan kita tetapi kita mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan kita dan itu semua ada yang mengaturnya
kita sering berfikir mengapa jodoh datang tanpa diduga2.sebenernya semua itu ada yang mengatur seperti hidup kita dan Allah juga memberikan kita jodoh bukan karena keinginan kita tapi kita diberikan jodoh dan anugerah karena kebutuhan kita.oleh karena itu kita nggak mungkin bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginan kita tetapi kita mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan kita dan itu semua ada yang mengaturnya
.
tetapi kebanyakan orang tidak sadar akan hal itu begitu juga aku.kita sering beranggapan kalau jodoh itu yang terbaek bwat kita tapi anggapan itu nggak selalu bena.kita bisa mendapatkannya karena hal itu seseuai kebutuhan kita.dan kebanyakan orang sekarang lebih banyak membutuhkan kebahagiaan semata,jarang sekali ada yang mau merasakan kesedihan.begitu juga dengan cinta,cinta tidak datang begitu aja.cinta datang dengan proses dan proses itu sesuai dengan kebutuhan kita.bila kedua itu berhubungan maka cinta akan tumbuh dengan sendirinya.
tetapi kebanyakan orang tidak sadar akan hal itu begitu juga aku.kita sering beranggapan kalau jodoh itu yang terbaek bwat kita tapi anggapan itu nggak selalu bena.kita bisa mendapatkannya karena hal itu seseuai kebutuhan kita.dan kebanyakan orang sekarang lebih banyak membutuhkan kebahagiaan semata,jarang sekali ada yang mau merasakan kesedihan.begitu juga dengan cinta,cinta tidak datang begitu aja.cinta datang dengan proses dan proses itu sesuai dengan kebutuhan kita.bila kedua itu berhubungan maka cinta akan tumbuh dengan sendirinya.
Rabu, 20 April 2011
Doa Untuk Sekerangjang Tempe
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..” demikian dia selalu memaknai hidupnya. Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan- ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk akan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe .
Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…”
Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.
Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe . Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe . Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…”
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe . Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe !” batinnya.
Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar…merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. “Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??” Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe …”
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe …” “Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! “Alhamdulillah! ” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?” “Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi,saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?”
Pembaca, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna. Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa.
Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah SWT takdirkan.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”(QS. Al Baqarah 216)
Langganan:
Postingan (Atom)